Ditulis oleh Tristan Sanders
Monday, 19 May 2008
seandaikan
aku adalah bintang
biarkan aku meledak, berkeping
dan setiap mikron debuku terhampar di pelosok bimasakti
aku menjadi jutaan aku
mungkin singgah di salah satu pesawat antariksa amerika
yang sedang pulang
sampai di bumi setelah terbakar-bakar
menyambangi wajah seorang yang merindu
tengadah memandang-mandang langit
melihat-lihat bintang
dan bertanya-tanya
apakah dirimu masih ada sayang?
apakah dirimu tetap disana sayang?
seumpama
aku adalah batu gunung besar di kaki gunung besar
biarlah truk-truk mengangkutku
dan aku dipecah-pecah
menjadi ratusan aku
mungkin dijadikan pondasi
ditumpuk-tumpuk dengan sesama batu
dibawah rumah seorang kekasih
yang bingung mondar-mandir
dan bertanya-tanya
apakah dirimu akan pulang sayang?
apakah dirimu tahu jalannya sayang?
dan aku mungkin tak lebih bosan lagi
Kamis, 26 Februari 2009
Selasa, 04 November 2008
Trilogi Rindu Batu
Seperti jejak air pada batu kali
merintih sendiri kepada sisa kini
yang sudah bekas tak hilang lekas
meski logika hendak bergegas
sampai entah adamu, jua pula padaku
rasa malas baur kecut
lepas kamu selayak pecut
cerita sudah ingin sampai sini, belum lagi aku ingin pergi
seperti jejak air pada batu kali
kasih, padamu sampai entah aku berkeras diri.
(Bagian 2)
Boleh jadi langit meruntuh, ketika malam pekat menjadi sayat, kepada
serpihan nyeri kalbu, dan bidadari-bidadari hanya dongeng yang menjaga
lelapku.
Biar saja apa ada, didalam langit yang runtuh dan tidur penatku,
kujaga kamu tak ujung kutau.
(Bagian 3)
Selisih waktu jadi benalu
manakala keramaian begitu hening
dan sunyi itu tak mau diam dalam bergeming
sampai payah aku tak mau goyah
kamu cuma kamu-dia cuma dia !
picisan ini betapa abadi
untuknya, kubuat dongeng cinderlela yang kuakhiri sendiri.
merintih sendiri kepada sisa kini
yang sudah bekas tak hilang lekas
meski logika hendak bergegas
sampai entah adamu, jua pula padaku
rasa malas baur kecut
lepas kamu selayak pecut
cerita sudah ingin sampai sini, belum lagi aku ingin pergi
seperti jejak air pada batu kali
kasih, padamu sampai entah aku berkeras diri.
(Bagian 2)
Boleh jadi langit meruntuh, ketika malam pekat menjadi sayat, kepada
serpihan nyeri kalbu, dan bidadari-bidadari hanya dongeng yang menjaga
lelapku.
Biar saja apa ada, didalam langit yang runtuh dan tidur penatku,
kujaga kamu tak ujung kutau.
(Bagian 3)
Selisih waktu jadi benalu
manakala keramaian begitu hening
dan sunyi itu tak mau diam dalam bergeming
sampai payah aku tak mau goyah
kamu cuma kamu-dia cuma dia !
picisan ini betapa abadi
untuknya, kubuat dongeng cinderlela yang kuakhiri sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)

